LAPORAN
RESMI
PRAKTIKUM
KIMIA ANORGANIK II
PERCOBAAN VI
STOIKIOMETRI
KOMPLEKS AMMIN-TEMBAGA(II)
Disusun
Oleh :
Nama : Hurul Aini As Silmi
Jurusan : Kimia
Fakultas : Mipa
Hari,
Tanggal :
Selasa, 8 Mei 2012
Asisten :
Priyagung Dhemi Widiangkoko
LABORATORIUM
KIMIA ANORGANIK
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
STOIKIOMETRI
KOMPLEKS AMMIN-TEMBAGA(II)
INTISARI
Hurul Aini As Silmi
09/282362/Pa/12439
Jurusan Kimia, Fakultas MIPA Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan rumus
molekul kompleks ammin-tembaga (II) dan menentukan kuantitas Δo
ligan ammonia dan air.
Penentuan rumus molekul kompleks
ammin-tembaga (II) dilakukan berdasarkan dengan distribusi ammonia berlebihan
dalam air dan kloroform. Sedangkan, penentuan kuantitas Δo ligan
ammonia dan air dilakukan berdasarkan panjang gelombang (λ) serapan warna
kompleksnya.
Berdasarkan perhitungan eksperimen,
kompleks yang terbentuk adalah [Cu(NH3)4]2+ dan Δo
yang lebih besar adalah Δo
ligan NH3.
Keyword
: kompleks ammin-tembaga (II)
STOIKIOMETRI
KOMPLEKS AMMIN-TEMBAGA (II)
I.
TUJUAN
1. Menentukan rumus kompleks ammin-tembaga
(II)
2. Menentukan kekuatan ligan ammonia dan
air
II.
LANDASAN TEORI
Ion
kompleks atau terdiri dari atom atau ion pusat dan sejumlah ligan. Jumlah
relatif komponen-komponen ini dalam kompleks stabil mengikuti ketentuan
stoikiometri , walaupun ini tidak diinterpretasikan dengan konsep klasik
valensi. Atom pusat dapat dikarakterkan oleh bilangan koordinasi yang
menunjukkan jumlah ligan (monodentat) yang dapat membentuk kompleks stabil
dengan satu atom pusat. Dalam kebanyakan kasus, bilangan koordinasi adalah 6
(sebagai dalam kasus Fe2+, Fe3+, Zn2+, Cr3+,
Co3+, Ni2+), kadang 4 (Cu2+, Cu2+),
tetapi 2 (Ag2+) dan 8 ( beberapa ion dalam kelompok platinum) bisa
terbentuk. Ligan tersusun disekitar atom pusat secara simetris. Ion anorganik
sederhana dan molekul seperti NH3, CN-, Cl-, H2O
membentuk ligan monodentat (Svehla,1979).
Ekstraksi
cair – cair adalah teknik dimana larutan ( biasanya berair) dilakukan kontak
dengan pelarut kedua ( biasanya organic), utamanya tidak larut dalam pelarut
pertama, untuk mengadakan transfer satu atau lebih solut ke dalam pelarut
kedua. Dalam kasus solute anorganik terkait dengan sampel dalam larutan berair sehingga
diperlukan pembentukan senyawa, seperti khelat logam netral dan ion kompleks,
yang dapat diekstraksi ke dalam pelarut organik. Untuk memahami prinsip dasar
ekstraksi, bermacam aturan yang digunakan untuk menunjukkan pemisahan harus
ditentukan. Untuk solut A didistribusikan antara dua fasa tak larut a dan b, Hukum Distribusi Nerst diberikan dalam molekul tetap dalam kedua
cairan dan temperatur konstan (Basset, 1989).
Pada
ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran
dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam
skala besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan
penyedap, produk-produk minyak bumi dan garam-garam. logam. Proses inipun
digunakan untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat
cair (Rahayu, 2009).
Kompleks
koordinasi menyerap cahaya pada daerah nampak dalam spektrum, menunjukkan warna
khusus. Teori medan kristal dan medan ligan yang telah dikembangkan dapat
menerangkan interpretasi warna. Ligan memimpin, untuk octahedral, ke
stabilisasi orbital diagonal (t2g)
dengan -4Dq (-0,4Δo) dan destabilisasi orbital aksial (eg) dengan +6Dq (+6 Δo)
dan pemisahan Δo ; untuk sejumlah besar kompleks, Δo
berada pada range ~7000 - ~40.000 cm-1, yang berada dalam daerah infrared dekat- tampak-ultraviolet
dekat. Energy dibutuhkan untuk promosi elektron dari tingkat lebih rendah ke
lebih tinggi, dan dimana energi ditangkap antara tingkat yang sama dengan
daerah spektra cahaya tampak, dalam mencapai keadaan tereksistasi bagian
terpilih dari spektra cahaya berwarna diserap; kita melihat residu sebagai
warna dalam kompleks. Jika diagram spilting oktahedral diuji untuk semua
transisi ion logam deret pertama dalam medan octahedral, dapat diketahui konsep
dan dapat dimengerti mengapa beberapa senyawa tidak berwarna (Lawrance, 2010).
III.
ALAT DAN BAHAN
ALAT
Alat - alat yang digunakan dalam
percobaan ini adalah buret 50 mL, mikroburet 5 mL, corong pisah, Erlenmeyer,
pipet gondok 10 mL, pipet ukur 10 mL, gelas eker, pipet tetes.
BAHAN
Bahan-bahan
yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan standar H2C2O4
0,1 M, larutan ammonia 1 M, larutan ion Cu 0,1 M, arutan HCl 0,055 M,
kloroform, indicator phenolphtalin (PP), dan indicator metil orange (MO).
V.
CARA KERJA
a. Standarisasi Larutan
a. Larutan NaOH
Buret
50 ml disiapkan dan diisi dengan NaOH yang akan distandarisasi. Erlenmeyer
sebanyak 3 buah diisi dengan 5 ml larutan standar H2C2O4
0,1 M dan ditambah 2 tetes indicator PP. kemudian dititrasi dengan larutan
NaOH.
b.
Larutan HCl
Buret
50 ml disiapkan dan diisi dengan HCl yang akan distandarisasi. Erlenmeyer
sebanyak 3 buah diisi dengan 10 ml larutan NaOH dan ditambah 2 tetes indicator
PP. kemudian dititrasi dengan larutan HCl.
c. Larutan NH3
Buret
50 ml disiapkan dan diisi dengan HCl yang akan distandarisasi. Erlenmeyer
sebanyak 3 buah diisi dengan 5 ml larutan NaOH dan ditambah 2 tetes indicator
PP. kemudian dititrasi dengan larutan HCl.
b.
Penentuann Koefisien Distribusi Ammonia
antara Air dan Kloroform
Sebanyak 10 ml larutan
NH3 (hasil standarisasi) dan 10 ml akuades ditambahkan ke dalam
corong pisah dan dikocok hingga homogen. Kemudian ditambahkan 25 ml kloroform
ke dalam corong pisah dan dikocok selama 5 – 10 menit. Corong didiamkan
sebentar sehingga tampak jelas ada dua lapisan. Kedua larutan kemudian
dipisakan. Larutan kloroform 10 ml dipindahkan ke dalam Erlenmeyer yang berisi
10 ml air dan ditambahkan indicator metil orange. Larutan dititrasi pelan –
pelan dengan larutan standar HCl 0,055 M menggunakan buret mikro 5 ml. Titik
ekivalen ditandai dengan terjadinya perubahan warna menjadi merah.
c. Penentuan Rumus Kompleks Cu-ammin
Langkah ini dilakukan
serupa dengan langkah penentuan koefisien distribusi ammonia, hanya 10 ml air
ditambahkan ke dalam corong pisah diganti dengan 10 ml larutan ion Cu2+
0,1 M.
VI. HASIL PERCOBAAN DAN
PEMBAHASAN
A. HASIL PERCOBAAN
1. Standarisasi
asam-basa
Volume
rata-rata HCl = 23,57 mL, [NaOH] = 0,085 M
Volume
rata-rata NaOH = 1,2 mL [HCl] = 0,71 M
Volume
rata-rata HCl = 9,67 mL, [NH3] = 0,73 M
2. Penentuan
koefisien distribusi
Volume
rata-rata HCl = 1,98 mL
Kd
= 6,00 x 10-3
3. Penentuan
rumus kompleks
Volume
rata-rata HCl = 1,78 mL
Rumus
molekul kompleks [Cu(NH3)7]2+
DAFTAR
PUSTAKA
Jika ada yang membutuhkan daftar pustaka, silakan hubungi saya.
Asisten
Priyagung Dhemi
Widiangkoko
|
Yogyakarta, 8 Mei 2012
Praktikan
Hurul Aini
As Silmi
|